<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pojok Sehat&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://pojoksehat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pojoksehat.wordpress.com</link>
	<description>Sharing dan Info Seputar Kesehatan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 05:26:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pojoksehat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/664fa9b4adf47f2518e10423a9fabbc5?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Pojok Sehat&#039;s Blog</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pojoksehat.wordpress.com/osd.xml" title="Pojok Sehat&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pojoksehat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>STRES EMOSIONAL PADA PENYANDANG DIABETES</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2010/01/30/stres-emosional-pada-penyandang-diabetes/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2010/01/30/stres-emosional-pada-penyandang-diabetes/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 15:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anoreksia nervosa]]></category>
		<category><![CDATA[Anxietas]]></category>
		<category><![CDATA[Balimia nervosa]]></category>
		<category><![CDATA[Berobat ke Dokter]]></category>
		<category><![CDATA[cara membangun]]></category>
		<category><![CDATA[cara membangun rasa percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[depressed mood]]></category>
		<category><![CDATA[Frustasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ganggguan Makan]]></category>
		<category><![CDATA[glukosa darah]]></category>
		<category><![CDATA[kadang glukosa darah tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[obsesif]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan Depresi]]></category>
		<category><![CDATA[rasa percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[segi emosional]]></category>
		<category><![CDATA[segi emosional penyandang diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[sikap menyangkal]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[“Saya bukan penderita diabetes, hanya gula darah yang sedikit naik” “Lebih baik mati daripada harus terus menerus suntik insulin” “Saya harus dapat menerima bahwa saya adalah penderita diabetes” Pendahuluan Pernahkah anda berfikir mengenai segi emosional penyandang diabetes? Banyak orang memandang diabetes hanya dari segi klinis saja. Tulisan ini bertujuan untuk membantu mengenal perasaan anda sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=251&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2010/01/stress.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-264" title="Stress" src="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2010/01/stress.jpg?w=640" alt=""   /></a>“<em>Saya bukan penderita diabetes, hanya gula darah yang sedikit naik</em>”</p>
<p>“<em>Lebih baik mati daripada harus terus menerus suntik insulin</em>”</p>
<p>“<em>Saya harus dapat menerima bahwa saya adalah penderita diabetes</em>”</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pernahkah anda berfikir mengenai segi emosional penyandang diabetes? Banyak orang memandang diabetes hanya dari segi klinis saja. Tulisan ini bertujuan untuk membantu mengenal perasaan anda sebagai penyandang diabetes, sehingga anda dapat mengendalikannya secara lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Segi emosional ini meliputi sikap menyangkal, obsesif, marah, dan takut. Semuanya tampak negatif, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian. Bersikap emosional menghadapi penyakit serius memang wajar, dan pada beberapa keadaan tertentu sikap ini bahkan dapat membantu atau bersifat protektif.</p>
<ol>
<li>Sikap Menyangkal</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang yang menyangkal sewaktu mengetahui dirinya menyandang diabetes, dan tidak mau menerima kenyataan bahwa ia harus menjalani kehidupan sebagai penyandang diabetes. Bahkan ada penyandang diabetes yang memerlukan beberapa tahun sampai ia mau mengubah cara hidupnya. Mereka tidak mau tahu bahwa banyaknya makanan dan kelebihan berat badan sangat berhubungan dengan tingginya kadar glukosa darah, dan juga berhubungan dengan gejala-gekala diabetes seperti mudah lelah, mudah infeksi dan lain-lain.</p>
<ul>
<li>Apakah anda juga masih tidak mau menerima keadaan sebagai penyandang diabetes?</li>
<li>Apakah anda mengalami gejala-gejala diabetes misalnya sering kencing, cepat lelah, mudah infeksi, atau penglihatan kabur?</li>
<li>Apakah anda merasa segan pergi ke dokter karena takut menghadapi kenyataan?</li>
<li>Apakah anda merasa malu mengaku pada orang lain bahwa anda menyandang DM?</li>
<li>Apakah anda berpendapat bahwa anda dapat mengendalikan diabetes hanya dengan minum obat saja tanpa harus mengubah kebiasaan/gaya hidup anda?</li>
<li>Apakah anda menganggap bahwa diabetes bukan suatu penyakit yang serius?</li>
</ul>
<p>Bila anda menjawab ya pada semua pertanyaan di atas, teruskan membaca tulisan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu ada mengetahui kebiasaan burung unta yang akan memasukkan kepalanya ke dalam pasir bila menghadapi bahaya, karena merasa tidak berdaya dan tdak tahu apa yang akan diperbuat. Pasien yang tidak mau menerima kenyataan sebagai penyandang diabetes sering bertindak seperti di atas dengan alasan yang sama. Cara mengatasi hal ini adalah dengan mengubah rasa tidak berdaya tersebut menjadi rasa percaya diri. Anda akan tahu bahwa sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi diabetes.<span id="more-251"></span></p>
<p>Bagaimana cara membangun rasa percaya diri? Ada 3 faktor penting :</p>
<ol>
<li>Pengetahuan/pengertian mengenai diabetes yang anda alami.</li>
<li>Keterampilan/kemampuan mengenai diabetes dari hari ke hari.</li>
<li>Kemampuan untuk mengendalikan emosi anda.</li>
</ol>
<p>Faktor ketiga yaitu aspek emosi. Ikutilah ilustrasi di bawah ini :</p>
<p>Tn.Bambang diminta oleh dokternya untuk memulai program latihan jasmani. Yang pertama dipikirkan oleh Tn. Bambang adalah : “<em>huh…Hal yang sama lagi! Seperti dokter-dokter lain ang menyuruh hal yang sama.</em>” Sebenarnya Tn. Bambang sudah mengetahui pentingnya latihan jasmani : memperbaiki kadar glukosa darah dan kesegaran tubuh, serta mengurangi risiko penyakit jantung. Tetapi ia merasa tua, 52 tahun dan tidak pernah berolah raga lagi sejak lulus SMU. Jadi bagaimana cara memulainya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda ingin memulai program latihan jasmani seperti yang dianjurkan dokter, langkah pertama adalah memikirkan jenis latihan jasmani yang ingin anda coba. Itu saja. Anda tidak perlu langsung melakukan latihan jasmani tapi hana membuat daftar jenis latihan jasmani yang menarik minat anda, misalnya jalan pagi, senam, dan lain-lain. Langkah kedua adalah melihat kapan anda punya kesempatan untuk melakukan latihan jasmani, pertimbangkan jenis latihan jasmani mana yang masih sempat anda lakukan. Langkah ketiga adalah membuat jadual kegiatan latihan jasmani, dimana anda akan melakukannya (di rumah atau di luar rumah), termasuk bersama siapa anda ingin melakukannya (misalnya dengan istri, anak anda). Buatlah jadual yang realistis, sehingga anda yakin sempat, mau dan mampu melakukannya, mulai menggerakkan otot untuk latihan jasmani. Langkah selanjutnya adalah melaksanakan program latiha jasmani yang telah anda buat. Bila ternyata kemudian jadual yang telah anda pilih tidak berjalan, anda dapat menggubah jadual tersebut sesuai dengan kesempatan dan kemampuan anda. Bila anda berhasil melakukan semua hal di atas, akan meningkatkan rasa percaya diri bahwa anda dapat melakukannya.</p>
<ol>
<li>Obsesi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Obsesi adalah kebalikan dari sikap penyangkalan terhadap diabetes. Pasien yang terobsesi biasanya sangat memperhatikan setiap hal mengenai diabetesnya. Ia akan melakukan semua hal sesempurna mungkin, karena yakin bahwa dengan demikian diabetesnya dapat dikendalikan dengan sempurna. Tetapi sayangnya manajemen diabetes bukan suatu hal yang sempurna. Sifat selalu ingin sempurna mungkin tidak akan berlangsung lama, sedangkan pengendalian diabetes harus berlangsung seumur hidup. Suatu ketika sikap obsesif ini mungkin akan menyebabkan kelelahan dan kekecewaan, dan merasa bahwa diabetes telah membatasi segala segi kehidupan.</p>
<p>Perhatikan ilustrasi berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">Anna adalah seorang pengusaha yang sukses, sampai suatu saat mengetahui bahwa ia menderita diabetes. Sejak saat itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan glukosa darahnya agar selalu dalam batas normal. Dia selalu makan tepat waktu, dan melakukan segala hal persis dalam textbook. Dia memeriksa sendiri kadar glukosa darahnya 6 kali sehari, dan ingin agar glukosa darahnya selalu di bawah 120 mg/dl. Seperti layaknya banyak orang yang sangat disiplin, Anna selalu melakukan segala hal sesempurna mungkin. Akhirnya ia merasa kehidupannya dikuasai oleh diabetes. Diabetes telah mengurangi kebebasannya. Ia merasa lelah dengan semua hal tersebut dan tidak dapat mempertahankannya terus menerus. “<em>Saya sangat sibuk bekerja setiap hari. Sangat merepotkan untuk dapat mengerjakan semua pekerjaan dan pengendalian diabetes sekaligus bersamaan. Persetan dengan segala hal tersebut, sudah sebaik mungkin saya berusaha tetapi tidak berhasil</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya Anna sadar, kemudian mengubah sikapnya yang selalu ingin sempurna dalam pengendalian diabetes. Ia bisa lebih santai dan tidak memboroskan banyak tenaga untuk selalu terobsesi dengan diabetesnya. Selanjutnya ia melaksanakan hal-hal yang realistis saja, yang penting diabetesnya tetap terkontrol dengan baik. Dengan sikap ini kehidupannya lebih bahagia, tidak tertekan (stress) dan pekerjaannya lebih sukses.</p>
<ol>
<li>Marah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Keadaan emosional yang sering didapatkan pada penyandang diabetes adalah marah. Mereka marah karena merasa hidupnya terganggu/tertekan. Mereka merasa dicabut kebebasannya karena banyak “<em>larangan</em>” dan “<em>keharusan</em>” menyangkut kehidupannya sebagai penyandang diabetes. Mereka tak dapat lagi makan makanan kesukaannya, harus minum obat secara teratur, lengannya harus ditusuk jarum suntik secara rutin untuk pemeriksaan darah atau suntik insulin, dll. Kemarahan ini sering dipicu oleh sikap lingkungannya yang tidak mendukung, misalnya keluarga/teman bersikap seperti polisi yang selalu mengawasi makanannya, latihan jasmaninya atau kadar glukosa darahnya. Ia merasa seperti tahanan yang dikelilinngi oleh para penjaga, bukan sebagai orang yang disayangi.</p>
<p style="text-align:justify;">Target kemarahannya sering diarahkan kepada dokter/tenaga kesehatan lainnya. Dokter dianggapnya member perintah atau larangan yang sulit dilakukan, dokter terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mendengarkan segala keluhannya, ahli gizi memberikan rancangan menu makanan yang tidak sesuai dengan selera, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya rasa marah ini wajar saja, karena meeupakan respons emosi yang normal pada penyandang diabetes. Misalnya anda marah karena dilarang makan makanan yang lezat yang sangat anda sukai dan biasa anda makan sebelum menyandang diabetes. Apakah anda akan terus marah-marah seumur hhidup? Tentunya tidak. Yang penting adalah bagaimana anda mengendalikan emosi dan mencari cara lain yang sesuai dengan keinginan anda sehingga dapat mengurangi rasa marah. Bila dilarang makan jenis makanan tertentu, pilihlah jenis makanan lainnya yang sesuai selera anda dan diperbolehkan. Setiap larangan/keharusan pasti ada alternatif pilihan lainnya. Anda yang berhak memilih, bukan ditentukan oleh orang lain.</p>
<ol>
<li>Frustasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Penyandang diabetes sering merasa frustasi karena setiap hari harus selalu memikirkan diabetesnya. Mereka merasa kebebasannya terganggu. Kadang-kadang glukosa darah tinggi walaupun ia merasa sduah melakukan segala sesuatu dengan benar. Mereka tak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi dikemudian hari akibat diabetesnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu menerima hasil pemeriksaan gul darah = 287 mg/dl, pasien yang harus frustasi akan mengatakan “<em>Saya telah lakukan segalanya dengan benar, tetapi gula darah tetap tinggi. Sudahlah, saya menyerah</em>”. Tentunya anda tidak demikian. Coba analisis apa yang menyebabkan glukosa darah naik. Apakah ada makanan yang melebihi takaran? Apakah lupa latihan jasmani? Bila ternyata semuanya sudah dilakukan dengan benar, coba dari penyebab lainnya : apakah obat sudah diminum? Apakah ada infeksi saluran nafas ? Stress di pekerjaan? Bila ternyata tetap tidak ditemukan jawaban yang memuaskan, cobalah untuk minta pertolongan tenaga kesehatan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Takut</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Banyak hal yang menimbulkan ketakutan pada penyandang diabetes. Penyandang diabetes akan lebih sering memikirkan kematian bila ada keluarganya yang meninggal akibat komplikasi diabetes. Penyandang diabetes lainnya takut disuntik insulin atau takut akan mengalami komplikasi diabetes.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya rasa takut tersebut wajar saja, bahkan dapat memperkuat motivasi untuk mengendalikan diabetes dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang-kadang penyandang diabetes mengalami stress yang menimbulkan gangguan emosi yang berat, misalnya depresi, anxietas/kecemasan, dan gangguan makan. Gangguan ini dapat berlangsung lama, terasa makin berat, dan sering berulang. Keadaan ini akan menyebabkan pengendalian diabetes menjadi lebih sulit.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;">Depresi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang mengatakan dia sedang depresi. Kebanyakan mereka menggunakan istilah “depresi” yang tidak sesuai dengan apa yang dimaskud sebagai depresi dalam klinik. Mungkin maksud mereka hanya bahwa saat itu sedang mengalami kesedihan, dengan suatu sebab yang jelas, biasanya belangsung hanya beberapa jam atau beberapa hari. Berbeda dengan depresi klinik. Biasanya tidak jelas faktor penyebab/pemicunya, kalaupun ada maka respons emosional yang timbul terlalu berlebihan dan berlangsung lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Diagnosis depresi dapat ditegakkan bila terdapat 5 atau lebih gejala khas berikut ini, selama 2 minggu atau lebih :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Perasaan sedih (<em>depressed</em> <em>mood</em>) sepanjang hari, dan terjadi hamper setiap hari.</li>
<li>Sulit tidur atau tidur terlalu banyak yang terjadi hamper setiap hari.</li>
<li>Merasa lesu, lelah tidak bertenaga, hamper setiap hari.</li>
<li>Perasaan murung dan hilang rasa senang setiap hari.</li>
<li>Tidak ada perhatian/minat terhadap semua aktivitas sehari-hari, hamper setiap hari.</li>
<li>Merasa hidup ini tidak berharga, tidak berguna, merasa bersalah tanpa alasan, serta kehilangan rasa percaya diri, hampir setiap hari.</li>
<li>Pandangan suram dan pesimistik terhadap masa depan.</li>
<li>Tidak dapat berfikir/berkonsentrasi/mengambil keputusan, hampir setiap hari.</li>
<li>Terus menerus memikirkan kematian, ingin mati, atau ingin bunuh diri.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari hal tersebut di atas, tampak bahwa depresi tidak sama dengan perasaan sedih saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Diabetes dan Depresi</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah adanya diabetes akan meningkatkan risiko timbulnya depresi? Jawabannya adalah ya. Penelitian akhir-akhir ini mendapatkan bahwa penyandang diabetes terutama yang mengalami komplikasi, mempunyai risiko depresi 3 kali lipat dibandingkan masyarakat umum. Komplikasi diabetes dapat menyebabkan kehidupan sehari-hari yang lebih sulit sehingga menimbulkan kesedihan berkepanjangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Pengobatan Depresi</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa cara/usaha yang dapat dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini mungkin agak berat untuk mulai melakukannya, tetapi layak dicoba. Buatlah daftar kegiatan yang dapat dilakukan. Mulailah dengan hal yang paling mudah dan paling sederhana misalnya :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bangun pagi jam 07.00 setiap hari, lalu segera mandi.</li>
<li>Bila badan bertambah kurus selama mengalami depresi, belilah pakaian baru yang sesuai dengan ukuran tubuh anda saat ini.</li>
<li>Sering-seringlah menghubungi teman melalui telepon.</li>
<li>Jalan-jalan keluar rumah setiap hari.</li>
<li>Tambahkan pikiran positif dalam daftar anda : “<em>Saya tidak ingin mengalami depresi selamanya. Pasti ada suatu cara yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya</em>”.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Seorang pasien kami selalu menyimpan dan membawa daftar kegiatan-kegiatannya seperti di atas. Orang tuanya sudah mengerti apa guna daftar tersebut. Bila dia mulai menunjukkan gejala depresi, orangtuanya akan mengingatkan : “<em>Ambillah daftarmu, dan coba kerjakan</em>”. Kemudian dia memlilih salah satu kegiatan dalam daftar tadi dan mengerjakannya ternyata hal tersebut dapat menolongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda juga dapat melakukan cara yang sama dalam usaha mengendalikan glukosa darah. Usaha ini mungkin terasa berat pada waktu anda mengalami depresi. Tetapi yakinkan diri anda bahwa dengan mengendalikan gula darah mungkin dapat mengurangi depresi yang anda alami. Setiap usaha, walaupun tampaknya sederhana akan dapat menolong. Misalnya :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rencanakan untuk mengikuti jadual (<em>tepat waktu</em>) untuk meinum obat antidiabetes atau suntik insulin selama tiga hari mendatang.</li>
<li>Periksa kadar glukosa darah anda lebih teratur, baik dengan alat glukometer yang anda miliki atau memeriksanya di laboratorium langganan anda.</li>
<li>Mulai membuat jadwal kunjungan control ke dokter, yang telah beberapa bulan tida anda lakukan.</li>
<li>Bagaimana jika anda mulai jalan-jalan sekitar rumah tiga kali seminggu, mulai minggu depan?</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Setiap usaha di atas tampaknya sederhana, tetapi merupakan langkah yang sangat berarti. Yang terpenting adalah usaha untuk memulainya sebagai langkah wal untuk dilanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala aktivitas fisik dapat menolong/memperbaiki situasi depresi yang anda alami. Mungkin olah raga merupakan pilihan terakhir yang ingin anda lakukan pada waktu anda mengalami depresi, tetapi perlu diingat bahwa olah raga dapat memberikan beberapa keuntungan antara lain :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Dapat memperbaiki pengendalian glukosa darah secara tepat.</li>
<li>Dapat mengaktifkan suatu bahan kimia dari otak yang disebut Endorfin, yang mnimbulkan rasa segar.</li>
<li>Dapat meningkatkan rasa percaya diri. Setelah anda mencoba, maka anda yakin dapat melakukannya sehingga rasa tak berdaya atau putus asa yang dialami waktu depresi dapat diatasi.</li>
<li>Dapat menimbulkan rasa santai, dapat mengatasi gangguan tidur, pikiran menjadi jernih, dan dapat berkonsentrasi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Berobat ke Dokter</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Bila anda mengalami depresi, maka anda dianjurkan untuk menemui dokter ahli. Pergi ke dokter kadang-kadang merupakan keputusan yang berat bila anda merasa pesimis dan menganggap tidak ada orang lain yang dapat menolong. Mungkin anda mempunyai sifat tertutup dan tidak suka membicarakan persoalan anda kepada orang lain. Tetapi percayalah bahwa sebenarnya mereka dapat membantu mengatasi masalah anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda sendiri yang dapat memutuskan kapan waktunya untuk menemui dokter. Tidak perlu menunggu sampai terjadi gangguan psikis yang berat untuk menemui dokter. Walaupun secara psikologis masih baik, tetapi bila sudah merasa “l<em>elah</em>” dalam usaha mengendalikan diabetes, maka anda sudah layak untuk meminta pertolongan dokter. Pilihlah dokter/konsultan yang cocok buat anda. Cocok yang dimaksud disini adalah yang membuat anda <em>comfortable</em> untuk mengungkapkan segala keluhan, yang mau dan yang punya waktu untuk mendengarkan segala keluhan anda, serta yang anda yakini mempunyai keahlian untuk membantu mengatasi masalah depresi yang anda alami. Keahlian ini termasuk pengetahuan tentang diabetes, khususnya kondisi diabetes pada diri anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain memberikan konseling kejiwaan biasanya dokter akan memberikan obat anti-depresi. Terdapat beberapa macam obat antidepresi. Lama pengobatan pada tiap pasien berbeda-beda (<em>bersifat individual)</em> dan sulit untuk dibuat patokan secara umum. Perlu diketahui bahwa efek tiap orang bersifat individual dan dibutuhkan waktu 1-2 minggu atau lebih untuk mendapatkan efek obat yang diinginkan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Anxietas/Kecemasan</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Setiap penyandang diabetes umumnya menngalami rasa cemas terhadap segala hal yang terjadi berhubungan dengan diabetesnya,misalnya : cemas terhadap kadar glukosa darah yang tinggi atau cemas akan timbulnya komplikasi akibat diabetesnya, dan lain-lain. Hal ini wajar terjadi, seperti halnya kecemasan/kekhawatiran yang terjadi sehari-hari (misalnya mengenai pekerjaan, perkawinan, dll). Tetapi kecemasan dalam klinik bukan kecemasan yang wajar seperti di atas. Cemas yang timbul cukup berat, dan berlangsung lama (6 bulan).</p>
<p style="text-align:justify;">Diagnosis kecemasan klinik ditegakkan bila dalam waktu 6 bulan tersebut anda mengalami minimal 3 dari 6 keadaan berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Rasa gelisah/khawatir yang berlebihan, seperti mau mendapat musibah.</li>
<li>Kewaspadaan berlebihan sehingga mengganggu tidur, sukar konsentrasi.</li>
<li>Mudah lelah.</li>
<li>Merasa pikiran kosong.</li>
<li>Mudah tersinggung.</li>
<li>Otot-otot tegang, tidak bisa santai.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Beberapa gejala di atas memang hamper mirip dengan gejala depresi. Beberapa gangguan psikis memang mempunyai gejala yang hamper mirip. Selain itu satu orang pasien dapat mengalami lebih dari satu jenis gangguan psikis.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi anxietas, antara lain :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Cobalah mengidentifikasi apa penyebab kecemasan yang anda alami.</li>
<li>Carilah cara jalan keluar untuk mengatasi kecemasan tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi perlu diingat : bila anda mengalami gejala gangguan psikis segeralah mencari pertolongan. Semua cara yang dianjurkan untuk mengatasi depresi seperti tercantum di atas, dapat dilakukan juga pada anxietas.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ganggguan Makan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Penyandang diabetes biasanya sangat memperhatikan makanannya sehari-hari, terutama pada wanita muda yang sangat memperhatikan berat badannya karena selalu ingin langsing. Hal ini kadang-kadang terjadi berlebihan sehingga timbul gangguan makan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat dua jenis gangguan makan, keduanya berpengaruh buruh bagi penyandang diabetes :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Anoreksia nervosa</em>. Pasien ini biasanya sangat membatasi jumlah makanan yang dimakannya, sering sampai di bawah 1000 kalori perhari. Mereka juga cenderung untuk melakukan olahraga yang berlebihan.</li>
<li><em>Balimia nervosa</em>. Pasien ini biasanya makan dalam jumlah besar dalam satu kali makan, lalu berusaha mengeluarkan apa yang telah dimakannya dengan berbagai cara misalnya memuntahkannya, menggunakan obat pencahar, atau obat <em>diuretika</em> (obat untuk memperbanyak kencing).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Adalah wajar bila seseorang ingin selalu langsing dengan cara mengatur makanan dan berolah raga. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa anda mengalami gangguan makan?</p>
<p style="text-align:justify;">Gejala berikut ini tidak normal dan dapat dipakai sebagai pedoman kemungkinan terjadinya gangguan makan :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sangat khawatir akan mengalami kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, padahal saat ini badan masih kurus. Berat badan kurang dari 85% dari berat badan ideal.</li>
<li>Menganggap diri kegemukan padahal orang lain mengatakan anda kurus.</li>
<li>Olahraga berlebihan (melebihi kebutuhan).</li>
<li>Tidak mempedulikan akibat buruk dari kondisi badan yang kurus.</li>
<li>Mempunyai kebiasaan makan banyak pada sekali makan, yang terjadi minimal 2 kali seminggu selama tiga bulan.</li>
<li>Mempunyai kebiasaan selalu minum obat pencahar/diuretika untuk menurunkan berat bdan atau berusaha untuk memuntahkan makanan yang baru dimakan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan keadaan di atas, gangguan makan dapat juga berupa : perasaan tidak dapat berhenti makan dan tidak dapat mengatur jenis/jumlah makanan yang dimakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua jenis gangguan makan tersebut dapat berpengaruh buruk pada pengendalian glukosa darah, yang berakibat timbulnya komplikasi diabetes akut maupun kronik.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila anda merasa menderita gangguan makan seperti di atas, segeralah minta pertolongan pada orang yang anda percayai misalnya psikolog atau dokter ahli jiwa yang menangani masalah gangguan makan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memang cukup berat untuk mengakui bahwa anda mengalami masalah gangguan stress emosional seperti telah dibicarakan pada makalah ini. Yang terpenting adalah bila anda mengalaminya, segeralah minta pertolongan. Karena jiwa/kehidupan anda yang menjadi taruhannya, maka mintalah pertolongan untuk menyelamatkannya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a> Tagged: <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/anoreksia-nervosa/'>Anoreksia nervosa</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/anxietas/'>Anxietas</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/balimia-nervosa/'>Balimia nervosa</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/berobat-ke-dokter/'>Berobat ke Dokter</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/cara-membangun/'>cara membangun</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/cara-membangun-rasa-percaya-diri/'>cara membangun rasa percaya diri</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/depressed-mood/'>depressed mood</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/frustasi/'>Frustasi</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/ganggguan-makan/'>Ganggguan Makan</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/glukosa-darah/'>glukosa darah</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/kadang-glukosa-darah-tinggi/'>kadang glukosa darah tinggi</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/kecemasan/'>Kecemasan</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/marah/'>marah</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/obsesif/'>obsesif</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/pengobatan-depresi/'>Pengobatan Depresi</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/rasa-percaya-diri/'>rasa percaya diri</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/segi-emosional/'>segi emosional</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/segi-emosional-penyandang-diabetes/'>segi emosional penyandang diabetes</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/sikap-menyangkal/'>sikap menyangkal</a>, <a href='http://pojoksehat.wordpress.com/tag/takut/'>takut</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=251&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2010/01/30/stres-emosional-pada-penyandang-diabetes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2010/01/stress.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Stress</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUMOR TENTANG INSULIN, MANA YANG BENAR, MANA YANG SALAH???</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/16/romor-tentang-insulin-mana-yang-benar-mana-yang-salah/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/16/romor-tentang-insulin-mana-yang-benar-mana-yang-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 11:53:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[asam amino insulin]]></category>
		<category><![CDATA[aterosklerosis]]></category>
		<category><![CDATA[Insulin]]></category>
		<category><![CDATA[insulin eksogen]]></category>
		<category><![CDATA[pankreas]]></category>
		<category><![CDATA[studi DAWN]]></category>
		<category><![CDATA[UKPDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan PojokSehat. Sejarah pemakaian insulin dimulai sekitar awal tahun 1920-an, ketika Frederick Banting and Charles Best berhasil mengisolasi insulin dari pancreas seekor anjing lalu menyuntikkannnya ke seorang anak diabetes tipe 1. Keajaiban ditunjukkan pada saat itu, dimana anak yang awalnya sangat kurus kemudian bisa menjadi sehat dan BB menjadi normal setelah disuntik dengan insulin. Sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=140&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/fredrick-banting.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-197" title="fredrick banting" src="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/fredrick-banting.jpg?w=227&#038;h=300" alt="" width="227" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PojokSehat</strong>. Sejarah pemakaian insulin dimulai sekitar awal tahun 1920-an, ketika <em>Frederick Banting </em>and<em> Charles Best </em>berhasil mengisolasi insulin dari pancreas seekor anjing lalu menyuntikkannnya ke seorang anak diabetes tipe 1. Keajaiban ditunjukkan pada saat itu, dimana anak yang awalnya sangat kurus kemudian bisa menjadi sehat dan BB menjadi normal setelah disuntik dengan insulin. Sejak saat itu dunia ilmu pengetahuan sangat tertarik dan banyak melakukan penelitian tentang insulin, dan akhirnya pada tahun 1950-an, urutan asam amino insulin dapat diidentifikasi, dan kemudian insulin juga bisa dimurnikan. Akhirnya kita lihat saat ini insulin dapat diproduksi secara masal melalui teknologi rekombinaan dengan menggunakan jasa bakteri. Penemuan insulin merupakan tonggak sejarah terpenting di dunia kedokteran terkait kemampuan mengisolasi protein tertentu sehingga penemunya mendapat hadiah nobel kedokteran. <span id="more-140"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peran Insulin Pada Pengobatan Diabetes</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diabetes adalah penyakit kronik yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi yang berkepanjangan sehingga sering mengakibatkan beragam penyakit <em>aterosklerosis</em> (serangan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, gagal ginjal kronik, kebutaan, amputasi dan lain-lain). Gula darah yang tinggi adalah akibat pabrik insulin yaitu pancreas, tidak mampu memproduksi insulin (<em>disebut insulin endrogen</em>) sesuai dengan kebutuhan tubuh, sekaligus pada saat sama sel-sel tubuh kurang senditif dengan insulin, akibatnya dibutuhkan insulin yang lebih banyak untuk memasukkan gula darah ke dalam sel. Seperti dipahami bahwa insulin berfungsi seperti anak kunci yang membuka “<em>pintu</em>” di dinding sel, selanjutnya “<em>pintu</em>” tersebut menjadi terbuka dan gula darah dapat masuk ke dalam sel sehingga bisa diolah untuk menghasilkan energy. Jika gagal dimasukkan ke dalam sel maka gula darah akan tetap di sirkulasi pembuluh darah dan bila diukur kadarnya tinggi, itulah yang disebut dengan diabetes.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragam usaha untuk menurunkan gula darah telah diupayakan, baik dalam bentuk obat minum maupun obat injeksi. Obat minum juga tersedia dalam beragam cara kerja, ada yang meningkatkan pengeluaran insulin dari pabriknya dan ada juga yang bekerja dengan meningkatkan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin. Di sisi lain ada juga usaha meningkatkan kadar insulin itu sendiri dengan menambah insulin dari luar tubuh (<em>insulin eksogen</em>), hanya saja sampai saat ini, insulin eksogen baru tersedia dalam bentuk suntikan, walaupun manusia sangat bercita-cita membuat insulin dalam bentuk selain suntikan sehingga mudah diterima oleh pasien. Dalam keadaan tertentu, insulin bahkan merupakan satu-satunya pilihan untuk menurunkan gula darah, seperti saat dokter ingin menurunkannya secara cepat, pada diabetes tipe 1, gagal dengan obat makan, pada keadaan kritis, diabetes dengan kehamilan, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada diabetes tipe 2 (lebih dari 95% diabetes merupakan tipe 2), disamping perencanaan makan dan oleh raga memang awalnya dipakai obat-obat minum, hanya saja karena saat didiagnosis kapasitas pabrik insulin (<em>pancreas)</em> tersisa hanya 50% maka seringkali diabetes tipe 2 pada akhirnya juga butuh insulin. Tidak mudah untuk menawarkan insulin pada pengidap diabetes, karena sebagian besar dari mereka kurang mendapatkan informasi yang baik dan benar tentang insulin. Biasanya pengidap diabetes mendapat rumor dari orang non medis yang serinngkali banyak salahnya daripada benarnya, sehingga jika tiba saatnya mereka harus memakai insulin timbul penolakan akibat persepsi yang salah tentang insulin. Dari penelitian-penelitian yang ada sekitar 54,5% (<em>studi DAWN</em>) pasien diabetes tanpa insulin khawatir jika memakai insulin, dan 27% menolak saat ditawarkan insulin (<em>UKPDS)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rumor tentang Insulin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di masyarakat awam banyak sekali rumor yang beredar tentang insulin, sebagian diantaranya benar tetapi sebagian besar adalah salah bahkan menyesatkan. Untuk itu perlu ada klarifikasi dan diseminasi informasi yang benar tentang insulin sehingga diharapkan masyarakat lebih mudah menerima insulin jika memang diperlukan untuk pengobatan diabetesnya. Beberapa rumor diantaranya adalah :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> a. Insulin menyebabkan kecanduan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Insulin disalah persepsikan seperti narkoba yang bisa menyebabkan kecanduan. Tentu pemahaman ini salah dan perlu diperbaiki. Insulin tidak menyebabkan ketagihan apalagi kecanduan. Kadang-kadang juga ada pendapat bahwa : “<em>sekali insulin tetap insulin</em>”. Padahal seringkali pasien-pasien yang pulang rawat justru tidak butuh insulin lagi walaupun dalam perawatan di rumah sakit mereka memakai insulin. Memang untuk pasien-pasien yang sudah lama mengidap diabetes tipe 2 seringkali gagal dengan obat minum dan butuh insulin. Untuk kasus-kasus seperti ini dokter juga tidak sehingga dibutuhkan insulin terus menerus. Semuanya tergantung dengan kapasitas cadangan pabrik insulin yaitu pancreas dan derajat resistensi sel-sel tubuh terhadap insulin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> b. Insulin hanya untuk diabetes tipe 1 (Tipe anak-anak)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk diabetes tipe 1 (sering timbul di usia anak-anak) jelas bahwa mereka dari awal harus memakai insulin, karena terjadi kekurangan insulin absolute sehingga harus memakai insulin dari luar tubuh. Untuk diabetes tipe 2 biasanya awalnya bisa terkontrol dengan obat makan. Masalahnya adalah saat diagnosis diabetes sebenarnya penyakitnya sudah berproses lama (10-12 tahun sebelumnya), sehingga kapasitas cadangan produksi insulinnya sudah jelek (tinggal 50%). Dengan berjalannya waktu kapasitas cadangan tersebut semakin lama semakin menurun, apalagi jika gula darahnya sering tidak terkontrol, maka penurunan tersebut akan semakin cepat dibandingkan denan orang yang selalu terkontrol (efek racun dari gula darah tinggi). Jadi pada diabetes tipe 2 juga sering membutuhkan insulin manakala kapasitas produksi pankreasnya sudah jelek.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> c. Insulin hanya dipakai jika penyakitnya sudah parah dan sebagai jalan terakhir</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena diabetes adalah penyakit kronis yang berkepanjangan dan komplikasinya juga merupakan penyakit berat, maka konsep pengelolaannya dalah sedapat mungkin dengan menggunakan beragam cara mengontrol gula darah ke keadaan normal. Saat ini beberapa pedoman pengobatan menganjurkan kombinasi obat minum dengan insulin sedini mungkin tanpa perlu harus menunggu gagal dengan 2 atau 3 obat terlebih dahulu. Dengan demikian, insulin bukan jalan terakhir jika memang pasiennya bersedia menggunakan insulin.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong> d. Suntik insulin sakit</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini alat-alat <em>delivery</em> insulin semakin canggih dan nyaman untuk pasien. Jarum insulin dengan ukuran supra kecil dengan panjang kurang dari 0,5 cm membuat rasa sakit hamper tidak ada. Apalagi jarum insulin saat ini juga sudah dilapisi dengan silicon sehingga rasa sakitnya semakin berkurang. Biasanya setelah merasakan sekali dua kali pasien akan terbiasa dan tidak lagi merasakan sakit. Bentuknya tidak lagi menakutkan seperti jarum tetapi sudah dikemas seperti pen yang lucu dan mudah dibawa kemana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> e. Insulin mahal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hamper semua sediaan insulin saat ini masuk daftar obat PT Askes, sehingga para pengguna asuransi kesehatan PT Askes bisa memanfaatkannya. Karena semua insulin dapat diproduksi masal dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika maka biaya semakin murah. Begitu juga dengan Askeskin (asuransi kesehatan untuk warga miskin) juga menyediakan tanggungan untuk beberapa jenis insulin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> f. Insulin dapat mengakibatkan kebutaan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini benar-benar menyesatkan, bahkan harapannya adalah jika diabetes dapat terkontrol dengan baik sedini mungkin, maka kebutaan tersebut dapat dihindari. Seperti dipahami saat ini diabetes adalah penyebab kebutaan tersering di dunia pada orang dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> g. Insulin dapat mengakibatkan cuci darah</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini memang diabetes adalah penyebab tersering cuci darah di negara-negara maju. Dengan mengontrol diabetes dengan cara apapun, termasuk insulin, maka diharapkan pengidap tidak sampai harus cuci darah. Tentunya tidak cukup gula darah yang dikontrol tetapi juga faktor risiko lain seperti tekanan darah, kolesterol dan lain-lain. Seringkali pasien dating sudah dengan gangguan fungsi ginjal yang berat lalu ditawarkan insulin, sehingga disimpulkan bahwa insulinlah yang menyebabkan pasien menjadi cuci darah.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong> h. Repot, makan waktu banyak dan hidup menjadi terkungkung</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Memang jika sudah memakai insulin ada aktivitas baru yang secara rutin harus dikerjakan. Hanya saja para dokter tidak langsung menawarkan 2 atau 3 kali suntikan sehari, tetapi sekali suntikan terlebih dahulu dan dikombinasikan dengan obat minum yang sudah dipakai sebelumnya. Saat ini hamper sebagian besar insulin menggunakan pen yang canggih dan tidak menakutkan. Dengan menggunakan pen maka tidak serepot jika memakai jarum suntik biasa, waktu yang digunakan juga lebihs edikit. Pen bisa dibawa kemana-mana seperti pulpen dan dimasukkan ke saku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong> i. Insulin terbuat dari babi</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini, dimanapun, tidak ada lagi insulin yang terbuat dari binatang, semuanya merupakan insulin dengan urutan asam amino insulin manusia atau derivatnya. Insulin manusia sudah dapat dimurnikan dan diperbanyak dengan teknologi rekombinan. Insulin juga bukan dibuat dari mengakses pankreas orang yang sudah meninggal. Jadi tidak perlu lagi khawatir akan adanya insulin babi atau sapi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> j. Insulin dapat menyebabkan gula darah drop (hipoglikemia)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini sebagian ada benarnya. Tidak hanya insulin tetapi  sebagian besar obat minum juga dapat menyebabkan gula darah drop. Namun dengan edukasi yang baik, pengawasan dan kerjasama dengan dokter yang ketat, dan monitornya gula darah yang sesuai, maka risiko tersebut bisa diminimalisasi. Pengidap diabetes dan keluarga harus tahu kapan jadwal dan dosis menyuntik insulin, bagaimana mengatasinya, dan sebagainya. Akhirnya pengidap diabetes bisa menjadi ‘dokter’ utama bgi dirinya sendiri. Dengan memulai insulin jangka panjang sekali sehari, maka risiko gula darah drop juga semakin berkurang. Edukasi adalah hak para pengidap diabetes.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> k. Insulin menaikkan berat badan (menjadi lebih gemuk) </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Insulin adalah termasuk hormone anabolic, sehingga benar jika dikatakan insulin dapat menaikkan berat badan. Dengan demikian tidak heran jika pada keadaan berat badan yang menurun drastis, pada pengidap diabetes disarankan memakai insulin. Pada orang yang berat badannya ideal atau gemuk maka tentunya efek ini dapat mennimbulkan masalah baru. Namun dengan sediaan insulin analog yang banyak beredar saat ini dikatakan bahwa efek kenaikan berat badan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan insulin biasa. Cara lain untuk mengimbangi risiko kenaikan berat badan adalah dengan mengkombinasi dengan obat makanan golongan biguanid jika tidak terdapat kontra indikasi. Jangan lupa juga untuk tetap berolahraga sesuai aturan dan makan sesuai anjuran agar berat badan tidak naik berlebihan jika memakai insulin.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini banyak sekali pengidap diabetes yang dating ke dokter dalam keadaan sudah dngan bermacam-macam komplikasi kronik, sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang sangat tinggi. Untuk itu perlu dikampanyekan kembali kesadaran untuk mengontrol diabetes secara teratur dan dengan pendekatan target. Artinya pengidap diabetes seharusnya tidak dibiarkan belama-lama dengan obat tertentu, jika memang diabetesnya tidak juga terkontrol. Prinsipnya adalah cepat memastikan diagnosis diabetes, cepat memulai terapi dan cepat mengkombinasi obat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tri Juli Edi Tarigan</p>
<br />Posted in Artikel Tagged: asam amino insulin, aterosklerosis, Insulin, insulin eksogen, pankreas, studi DAWN, UKPDS <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=140&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/16/romor-tentang-insulin-mana-yang-benar-mana-yang-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/fredrick-banting.jpg?w=227" medium="image">
			<media:title type="html">fredrick banting</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KECENDERUNGAN PENINGKATAN JUMLAH PENYANDANG DIABETES</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/kecenderungan-peningkatan-jumlah-penyandang-diabetes/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/kecenderungan-peningkatan-jumlah-penyandang-diabetes/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 01:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Data]]></category>
		<category><![CDATA[Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[DM]]></category>
		<category><![CDATA[DM Tipe 1]]></category>
		<category><![CDATA[DM Tipe 2]]></category>
		<category><![CDATA[epidemiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Faktor]]></category>
		<category><![CDATA[International Diabetes Federation]]></category>
		<category><![CDATA[Peningkatan]]></category>
		<category><![CDATA[prevalensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tipe 1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan PojokSehat. Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus di beberapa negara berkembang akibat peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan, akhir-akhir ini banyak disoroti. Peningkatan pendapatan per kapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar, menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, hiperlipidemia, diabetes dan lain-lain. Tetapi data epidemiologi di negara berkembang memang masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=90&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-115" title="diabetes" src="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a>Pendahuluan</strong><br />
<strong>PojokSehat</strong>. Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus di beberapa negara berkembang akibat peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan, akhir-akhir ini banyak disoroti. Peningkatan pendapatan per kapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar, menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti <em>Penyakit Jantung Koroner (PJK)</em>, <em>hipertensi</em>, <em>hiperlipidemia</em>, <em>diabetes</em> dan lain-lain. Tetapi data epidemiologi di negara berkembang memang masih belum banyak. Hal ini disebabkan penelitian epideemiologik sangat mahal biayanya. Oleh karena itu angka prevalensi yang dapat itelusuri terutama berasal dari negara maju.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Prevalensi Diabetes Melitus Tipe I</strong><br />
Di Indonesia penyandang diabetes mellitus (DM) tipe I sangat jarang. Demikian pula di negara tropis lain. Hal ini rupanya ada hubungan dengannya dengan letak geografis Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa. Dari angka prevalensi berbagai negara tampak bahwa makin jauh letaknya suatu negara dari khatulistiwa makin tinggi prevalensinya DM tipe-nya. Ini bisa dilihat pada prevalensi DM tipe I di Eropa. Di bagian utara Eropa,misalnya di negara-negara Skandinavia prevalensi tipe 1-nya merupakan yang tertinggi di dunia, sedangkan di daerah bagian selatan Eropa misalnya di Malta sangat jarang. Di samping itu juga tampak bahwa insidens DM tipe 1 di Eropa Utara meningkat dalam 2-3 dekade terakhir. Ini menunjukkan bahwa barangkali pada DM tipe 1 faktor lingkungannya juga berperan di samping yang sudah diketahui yaitu faktor genetik. Adanya kekurangan asam asptartat pada posisi 57 dari rantai HLA-DQ-beta menyebabkan orang itu mejadi rentan (<em>suspectable</em>) terhadap timbulnya DM tipe 1. Tetapi kenyataan lain menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat berperan. Ini tampak pada angka prevalensi DM tipe 1 di dua negara dimana secara etnik tidak berbeda tetapi prevalensi DM tipe 1 di Estonia hanya 1/3 dari Finlandia.<span id="more-90"></span><br />
Dengan ditemukannya dua faktor tadi yaitu faktor genetic (non-Asp 57) dan faktor lingkungan maka di masa mendatang, upaya pencegahan timbulnya DM tipe 1 bukanlah suatu hal yang mustahil.<br />
Di Indonesia prevalensi DM tipe 1 secara pasti belum diketahui, tetapi diakui memang sangat jarang. Ini mungkin disebabkan oleh karena Indonesia terletak di khatulistiwa atau barangkali faktor genetiknya memang tidak menyokong, tetapi mungkin juga karena diagnosis DM tipe 1 yang terlambat hingga pasien sudah meninggal akibat komplikasi sebelum didiagnosis.<br />
<strong>Prevalensi Diabetes Melitus Tipe 2</strong><br />
Lain halnya pada DM tipe 2 yang meliputi lebih 90% dari semua populasi diabetes, faktor lingkungan diabetes, faktor lingkungan sangat berperan. Prevalensi DM tipe 2 pada bangsa kulit putih berkisar antara 3-6% dari orang dewasanya. Angka ini merupakan baku emas untuk membandingkan prevalensi diabetes antar berbagai kelompok etnik di seluruh dunia. Dengan demikian kita dapat membandingkan prevalensi di suatu negara atau suatu kelompok etnis tertentu dengan kelompok etnis kulit putih pada umumnya. Misalnya di negara-negara berkembang yang laju pertumbuhan ekonominya sangat menonjol, misalnya di Singapura, prevalensi diabetes sangat meningkat dibanding dengan 10 tahun yang lalu. Demikian pula pada beberapa kelompok etnis di beberapa negara yang mengalami perubahan gaya hidup yang sangat berbeda dengan cara hidup sebelumnya karena memang mereka lebih makmur, prevalensi diabetes bisa mencapai 35% seperti misalnya di beberapa bangsa mikronesia dan polinesia di pasifik, Indian pima di Amerika Serikat, orang Meksiko yang ada di Amerika serikat, bangsa Creole di Amerika Selatan. Prevalensi tinggi juga ditemukan di Malta, Arab Saudi, Indian Canada, dan Cina di Mauritius, Singapura dan Taiwan.<br />
Tentang baku emas yang tadi dibicarakan, sebenarnya juga ada keistimewaannya, misalnya suatu penelitian di Wadena Amerika Serikat, mendapatkan bahwa prevalensi pada orang kulit putih sangat tinggi dibandingkan dengan baku emas tadi (Eropa) yaitu sebesar 23,2% untuk semua gangguan toleransi glukosa, terdiri dari 15,1% <em>Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) </em>dan 8,1% DM tipe 2. Dengan kenyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa factor lingkungan sangat berperan. Hal ini dapat dilihat pada studi Wadena tadi bahwa secara genetic mereka sama-sama kulit putih, tetapi di Eropa prevalensinya lebih rendah. Di sini jelas karena orang-orang di Wadena lebih gemuk dan hidupnya lebih santai. Hal ini akan berlaku bagi bangsa-bangsa lain, terutama di negara yang tergolong sangat berkembang seperti Singapura, Korea, dan barangkali Indonesia.<br />
Contoh lain yang baik bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh adalah di Mauritius, suatu Negara kepulauan yang penduduknya terdiri dari berbagai kelompok etnik. Pada suatu penelitian epidemiologic yang dilakukan di sana dengan jumlah responden sebanyak 5.080 orang, didapatkan prevalensi TGT dan DM tipe 2 adalah sbb :<br />
Kelompok etnik	TGT %	DM tipe 2 %<br />
India Hindu	16,2	12,4<br />
India Muslim	15,3	13,3<br />
Creole	17,5	11,9<br />
Cina	16,6</p>
<p style="text-align:justify;">Dari angka-angka di atas nampak bahwa pada bangsa-bangsa India, Cina, dan reole (campuran Afrika, Eropa, dan India) prevalensi DM jauh lebih tinggi dari baku emas, padahal di negara asalnya sangat rendah. Misalnya di Cina daratan prevalensi diabetes sangat rendah. Juga di India sangat rendah dengan catatan di beberapa bagian dari India bagian Selatan sudah menunjukkan peningkatan. Di Afrika juga rendah, tetapi pada bangsa Afrika yang tinggal di Amerika Serikat, Inggris, Mauritius dan Suriname prevalensi DM sangat tinggi. Perlu diketahui bahwa keadaan ekonomi di Mauritius untuk golongan etnik tadi jauh lebih baik dibandingkan dengan di negara asalnya.<br />
Dari data ini semua dapatlah disimpulkan bahwa faktor lingkungan teutama peningkatan kemakmuran suatu bangsa akan meningkatkan prevalensi diabetes. Bahwa kekerapan akan menjadi dua kali lebih tinggi dalam waktu 10 tahun bukanlah suatu hal yang mustahil terutama di Negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya sudah mapan. Keadaan ini tentu saja harus diantisipasi oleh pembuat kebijaksanaan di tiap Negara bekembang supaya dalam menentukan rencana jangka panjang kebijakan pelayanan kesehatan di negaranya, masalah ini harus dipertimbangkan.<br />
Data terakhir adalah data dari IDF tahun 2006 seperti tampak pada gambar 1, prevalensi di Negara-negara timur tengah paling tinggi (di atas 20%) di susul Mexico.<br />
Indonesia termasuk dalam kelompok dengan prevalensi yang paling rendah saat itu. Ini mungkin karena Indonesia belum punya angka nasional resmi. Yang lebih memprihatinkan adalah komposisi umur pasien diabetes di negara maju kebanyakan sudah berumur 65 tahun jadi pada umur yang sudah tidak produktif lagi, sedangkan di negara berkembang kebanyakan pasien diabetes berumur antara 45 sampai 64 tahun, golongan umur yang masih sangat produktif.<br />
<strong>Diabetes di Indonesia</strong><br />
Menurut penelitian epidemiologi yang sampai tahun delapan puluhan telah dilaksanakan berbagai kota di Indonesia, prevalensi diabetes berkisar antara 1,5% s/d 2,3% kecuali di Manado yang agak tinggi sebesar 6%.<br />
Hasil penelitian epidemiologis berikutnya tahun 1993 di Jakarta (daerah urban) membuktikan adanya peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, kemudian pada tahun 2001 di Depok, daerah sub urban di Selatan Jakarta menjadi 12,8%. Demikian pula prevalensi DM di Ujung Pandang (daerah urban), meningkat dai 1,5% pada tahun 1981 menjadi 3,5% pada tahun 1998 dan terakhir  pada tahun 2005 menjadi 12,5%.<br />
Di daerah rural yang dilakukan oleh Arifin di suatu kota kecil di Jawa Barat angka itu hanya 1,1%. Di suatu daerah terpencil di Tanah Toraja didapatkan prevalensi DM hanya 0,8%. Di sini jelas ada perbedaan antara urban dengan rural, menunjukkan bahwa haya hidup mempengaruhi kejadian diabetes. Di Jawa Timur angka itu tidak berbeda yaitu 1,43% di daerah urban dan 1,47% di daerah rural. Hal ini mungkin disebabkan tingginya prevalensi <em>Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi</em> (DMTM) yang sekarang dikategorikan  sebagai diabetes tipe pancreas di Jawa Timur sebesar 21,2% dari seluruh diabetes di daerah rural.<br />
Melihat tendensi kenaikan prevalensi diabetes secara global yang tadi dibicarakan terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi, maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan dating kekerapan DM tipe 2 di Indonesia akan meningkat dengan drastic yang disebabkan oleh beberapa faktor :<br />
1.	Faktor keturunan (genetic)<br />
2.	Faktor kegemukan/obesitas<br />
•	Perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat<br />
•	Makan berlebihan<br />
•	Hidup santai, kurang gerak badan<br />
3.	Faktor demografi<br />
•	Jumlah penduduk meningkat<br />
•	Urbanisasi<br />
•	Penduduk berumur di atas 40 tahun meningkat<br />
4.	Berkuranngnya penyakit infeksi dan kurang gizi</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Diabetes Atlas 2000 (International Diabetes Federation) tercantum perkiraan penduduk Indonesia di atas 20 tahun sebesar 125 juta dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4,6% diperkirakan pada tahun 2000 berjumlah 5,6% juta. Berdasarkan pola pertambahan penduduk seperti saat ini, diperkirakan pada tahun 2020 nanti aka nada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4,6% akan didapatkan 8,2 juta pasien diabetes.<br />
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Litbang Depkes yang hasilnya baru saja dikeluarkan bulan Desember 2008 menunjukkan bahwa prevalensi nasional untuk TGT 10,25% dan diabetes 5,7% (1,5% terdiri dari pasien diabetes yang sudah terdiagnosis sebelumnya, sedangkan sisanya 4,2% baru ketahuan diabetes saat penelitian). Angka itu diambil dari hasil penelitian di seluruh provinsi. Kalimantan Barat dan Maluku Utara menduduki peringkat prevalensi diabetes tertinggi tingkat propinsi.<br />
Dengan hasil penelitian ini maka kita sekarang untuk pertama kali punya angka prevalensi nasional. Sekadar untuk perbandingan menurut IDF pada tahun 2006 angka prevalensi Amerika Serikat 8,3% dan Cina 3,9% jadi Indonesia berada di antaranya. Di Malaysia, Negara tetangga/serumpun Indonesia  terdekat, pada 3rd National Health and Mortality &amp; Morbidity Survey in Malaysia 2006 didapatkan prevalensi yang tinggi ysitu 14,9% tetapi survey itu dilakukan pada individu di atas 30 tahun, sedangkan di Indonesia populasi survey melibatkan individu 15 tahun k e atas.<br />
Kesimpulan<br />
Jumlah penyandang diabetes terutama diabetes tipe 2 makin meningkat di seluruh dunia terutama di negara berkembang karena perubahan gaya hidup salah yang menyebabkan obesitas. Faktor urbanisasi dan meningkatnya pelayanan kesehatan merupakan factor penting juga karena usia menjadi lebih panjang. Untuk pertama kalinya Indonesia mempunyai data nasional prevalensi diabetes untuk daerah urban sebesar 5,7% berkat penelitian yang baru saja selesai dilakukan oleh Litbangkes Depkes.</p>
<p style="text-align:justify;">Diambil dari <em>Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes</em><br />
Di Tulis oleh : Slamet Suyono pada <em>Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu </em>edisi kedua tahun 2009. Bagian I Bab V.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<br />Posted in Artikel Tagged: Daerah, Data, Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi, DM, DM Tipe 1, DM Tipe 2, epidemiologi, Faktor, International Diabetes Federation, Peningkatan, prevalensi, Tipe 1 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=90&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/kecenderungan-peningkatan-jumlah-penyandang-diabetes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">diabetes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APA ITU DIABETES : PATOFISIOLOGI, GEJALA DAN TANDA</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/apa-itu-diabetes-patofisiologi-gejala-dan-tanda/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/apa-itu-diabetes-patofisiologi-gejala-dan-tanda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 01:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Faktor Pencetus]]></category>
		<category><![CDATA[Gejala dan Tanda-Tanda Awal]]></category>
		<category><![CDATA[Keluhan]]></category>
		<category><![CDATA[Patofisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan PojokSehat. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relative. DM merupakan salah satu penyakit degenerative dengan sifat kronis yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=88&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes_3202008-12-21-1229889570.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-117" title="diabetes_3202008-12-21-1229889570" src="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes_3202008-12-21-1229889570.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PojokSehat</strong>. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relative. DM merupakan salah satu penyakit degenerative dengan sifat kronis yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1983, prevalensi DM di Jakarta baru sebesar ,7%; pada tahun 1993 prevalensinya meningkat menjadi 5,7% dan pada tahun 2001 melonjak menjadi 12,8%.</p>
<p style="text-align:justify;">Klasifikasi atau jenis diabetes ada bermacam-macam, tetapi di Indonesia yang paling banyak ditemukan adalah DM tipe 2. Jenis diabetes yang lain ialah DM tipe 1; diabetes kehamian/gestasional (DMG) dan diabetes tipe lain. Ada juga kelompok individu lain dengan toleransi glukosa abnormal tetapi kadar glukosanya belum memenuhi syarat masuk ke dalam kelompok diabetes mellitus, disebut toleransi glukosa terganggu (TGT).<span id="more-88"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya penyakit diabetes tidaklah menakutkan bila diketahui lebih awal. Kesulitan diagnosis timbul karena kadang-kadang dia dating tenang dan bila dibiarkan akan menghanyutkan pasien ke dalam komplikasi fatal. Oleh karena itu, mengenal tanda-tanda awal penyakit diabetes ini menjadi sangat penting.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyakit kencing manis telah dikenal ribuan tahun sebelum masehi. Dalam manuskrip yang ditulis George Ebers di Mesir sekitar tahun 1550 sM- kemudian dikenal sebagai Papirus Ebers, mengungkapkan beberapa pengobatan terhadap suatu penyakit dengan gejala sering kencing yang member kesan diabetes. Demikian pula dalam buku India Aryuveda 600 sM penyakit ini telah dikenal. Dikatakan bahwa penyakit ini dapat bersifat ganas dan berakhir dengan kematian penderita dalam waktu singkat. Dua ribu tahun yang lalu Aretaeus sudah memberikan adanya suatu penyakit yang ditandai dengan  kencing yang banyak dan dianggapnya sebagai penyakit yang penuh rahasia dan menamai penyakit itu diabetes dari kata diabere yang berarti siphon atau tabung untuk mengalirkan cairan dari satu tempat ke tempat lain. Ia berpendapat bahwa penyakit itu demikian ganas, sehingga penderita seolah-olah dihancurkan dan dibuang melalui air seni. Cendekiawan Cina dan India pada abad 3 s/d 6 juga menemukan penyakit ini, dan mengatakan bahwa urin pasien-pasien itu rasanya manis. Willis pada tahun 1674 melukiskan urin tadi seperti digelimangi madu dan gula. Sejak itu penyakit itu ditambah dengan kata mellitus yang artinya madu. Ibnu Sina pertama kali melukiskan gangrene diabetic pada tahun 1000. Pada tahun Von Mehring dan Minkowski mendapatkan gejala diabetes pada anjing yang diambil pancreasnya. Akhirnya pada tahun 1921 dunia dikejutkan dengan penemuan insulin oleh seorang ahli bedah muda Frederick Grant Banting dan asistennya yang masih mahasiswa Charles Herbert Best di Toronto. Tahun 1954-1956 ditemukan tablet jenis sulfonylurea generasi pertama yang dapat meningkatkan produksi insulin. Sejak itu banyak ditemukan obat seperti sulfonylurea generasi kedua dan ketiga serta golongan lain seperti biguanid dan penghambat glukosidase alfa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Patofisiologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pancreas yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan hormone insulin yang sangt berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.</p>
<p style="text-align:justify;">Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila isulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalams el dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes mellitus tipe 1.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada keadaan diabetes mellitus tipe 2, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak, tetapi jumlah reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan DM tipe 2, jumlah lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel kekurangan bahan bakar (glukosa) dan kadar glukosa dalam darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan keadaan DM tipe 1, bdanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi, kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe 2 juga bisa ditemukan jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga gagal membawa glukosa masuk ke dalam sel. Di samping penyebab di atas, DM juga bisa terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolism energy.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Faktor Pencetus</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Factor bibit merupakan penyebab utama timbulnya penyakit diabetes di samping penyebab lain seperti infeksi, kehamilan, dan obat-obatan. Tetapi, meskipun demikian, pada orang dengan bibit diabetes, belumlah menjamin timbulnya penyakit diabetes. Masih mungkin bibit ini tidak menampakkan diri secara nyata sampai akhir hayatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa factor yang dapat menyuburkan dan sering merupakan factor perncetus diabetes mellitus adalah :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>kurang gerak/ malas</li>
<li>makanan berlebihan</li>
<li>kehamilan</li>
<li>kekurangan produksi hormone insulin</li>
<li>penyakit hormone yang kerjanya berlawanan dengan insulin.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Gejala dan Tanda-Tanda Awal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adanya penyakit diabetes ini pada awalnya seringkali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita.  Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian ialah :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>keluhan klasik
<ol>
<li>Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Penurunan BB yang berlangsung dalam waktu relative singkat harus menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah hebat yang menyebabkan penurunan prestasi di sekolah dan lapangan olah raga juga mencolok. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Banyak kencing</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah banyak akan sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Banyak minum</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Rasa haus amat sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalahtafsirkan. Dikiranya sebab rasa haus ialah udara yang panas atau beban kerja yang berat. Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita minum banyak.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Banyak makan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisasikan menjadi glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, penderita selalu merasa lapar.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>keluhan lain
<ol>
<li>gangguan saraf tepi/ kesemutan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu malam, sehingga mengganggu tidur.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>gangguan penglihatan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">pada fase awal penyakit diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar ia tetap dapat melihat dengan baik.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>gatal/bisul</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Seringpula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhya. Luka ini dapat timbul akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk peniti.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>gangguan ereksi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">gangguan ereksi ini menjadi masalah tersembunyi karena sering tidak secara terus terang dikemukakan penderitanya. Hal ini terkait dengan budaya masyarakat yang masih merasa tabu membicarakan masalah seks, apalagi menyangkut kemampuan atau kejantanan seseorang.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keputihan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering ditemukan dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Diagnosis</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila ditemukan gejala dan tanda-tanda seperti di atas, sebaiknya segera pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Diagnosis diabetes mellitus hanya bisa ditegakkan setelah terbukti dengan pemeriksaan glukosa darag. Pemeriksaan dengan air seni sering kurang dapat dipercaya karena beberapa keadaan dapat menyebabkan negative maupun positif palsu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengobatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan utama pengobatan diabetes mellitus yaitu :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengembalikan konsentrasi glukosa darah menadi senormal mungkin agar penyandang DM merasa nyaman dan sehat.</li>
<li>Mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi</li>
<li>Mendidik penderita dalam pengetahuan dan motivasi agar dapat merawat sendiri penyakitnya sehingga mampu mandiri.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pokok-pokok pengobatan :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Edukasi penyandang DM</li>
<li>Mengatur makanan</li>
<li>Latihan jasmani</li>
<li>Obat-obatan</li>
<li>Pemantauan</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pengelolaan diabetes mellitus tanpa komplikasi akut pada umumnya selalu dimulai dengan pengaturan makanan dan latihan jasmani dulu. Apabila dengan pendekatan tersebut belum mencapai target yang diinginkan, baru diberikan obat-obatan baik oral maupun suntikan sesuai indikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengingat sifat diabetes mellitus yang menahun, tak dapat dipungkiri bahwa edukasi yang terus menerus dan berkesinambungan menjadi sangat penting. Pada akhirnya tujuan pengobatan diabetes mellitus harus ditetapkan bersama antara penyandang DM dengan tim yang mengelola.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Komplikasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Betapa seriusnya penyakit diabetes yang menyerang penyandang DM dapat dilihat pada setiap komplikasi yang ditimbulkannya. Lebih rumit lagi, penyakit diabetes tidak menyerang satu alat saja, tetapi berbagai komplikasi dapat diidap secara bersamaan yaitu :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jantung diabetes</li>
<li>Ginjal diabetes</li>
<li>Mata diabetes</li>
<li>Saraf diabetes</li>
<li>Kaki diabetes</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pencegahan</p>
<p style="text-align:justify;">Pencegahan pada diabetes mellitus sangat penting mengingat sifat penyakitnya yang menahun dan bila telah timbul komplikasi, biaya perawatannya sangat mahal.</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat perlu dilibatkan dalam program pencegahan dan pengelolaan penyakit diabetes ini. Dengan pengetahuan yang memadai, masyarakat dilibatkan dalam program skrining kasus baru terutama pada kelompok risiko tinggi untuk timbulnya penyakit diabetes mellitus, disebut pencegahan primer. Sementara itu untuk kelompok masyarakat yang telah menjadi penyandang diabetes, dapat diajak melakukan pencegahan mandiri terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi, disebut pencegahan sekunder atau mencegah berlanjutnya koomplikasi menjadi lebih buruk atau fatal, disebut pencegahan tersier. Dengan program pencegahan pada tingkat manapun, akans angat membantu penyandang DM dan keluarga serta masyarakat secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memang penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan, kecuali beberapa jenis diabetes. Tetapi dengan kemauan keras, penyakit ini dapat dikendalikan. Dengan berbekal pengetahuan yang cukup, disiplin dan keinginan yang besar, maka penyakit diabetes ini bukan merupakan penyakit yang menakutkan. Ibarat delman, penderita adalah kusir dan diabetes adalah kudanya. Sepanjang pak kusir masih memegang kendalinya, selama itu pula kudanya akan menuruti apa keinginan kusir. Dengan prinsip hidup yang positif, pada akhirnya penyandang DM dapat hidup bahagia bersama diabetes, seperti orang lain berbahagia tanpa diabetes.</p>
<p style="text-align:justify;">Diambil dari <em>Apa itu Diabetes : Patofisiologi, Gejala dan Tanda</em><br />
Di Tulis oleh : Imam Subekti pada<em> Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu</em> edisi kedua tahun 2009. Bagian II</p>
<br />Posted in Artikel Tagged: Faktor Pencetus, Gejala dan Tanda-Tanda Awal, Keluhan, Patofisiologi, Pengobatan, Sejarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=88&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/apa-itu-diabetes-patofisiologi-gejala-dan-tanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/12/diabetes_3202008-12-21-1229889570.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">diabetes_3202008-12-21-1229889570</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya Konsumsi Telur Mentah</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bahaya-konsumsi-telur-mentah/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bahaya-konsumsi-telur-mentah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 15:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[(Foto: ehow) Jakarta, Mencampur telur mentah dalam minuman seperti jamu, minuman energi atau makanan sudah menjadi kebiasaan sejumlah orang. Telur mentah untuk campuran minuman dan makanan itu dipercaya cukup higienis dan aman dikonsumsi. Adakah bahaya konsumsi telur mentah? Meski ada beberapa penyakit yang ditimbulkan dari makanan mentah namun masih banyak ditemukan orang yang memasak makanannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=86&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<div><img src="http://images.detik.com/content/2009/12/11/766/telur-dalam.jpg" alt="img" width="200" /><br />
<strong>(Foto: ehow)</strong></div>
<p><strong>Jakarta,</strong> Mencampur telur mentah dalam minuman seperti jamu, minuman energi atau makanan sudah menjadi kebiasaan sejumlah orang. Telur mentah untuk campuran minuman dan makanan itu dipercaya cukup higienis dan aman dikonsumsi. Adakah bahaya konsumsi telur mentah?</p>
<p>Meski ada beberapa penyakit yang ditimbulkan dari makanan mentah namun masih banyak ditemukan orang yang memasak makanannya tidak sampai matang, begitupun halnya dengan telur.</p>
<p>Sebagian besar kontroversi mengenai konsumsi telur mentah masih terjadi. Ada beberapa ahli yang mengatakan risiko seseorang terkena penyakit jika mengonsumsi telur mentah sangatlah kecil. Tapi ada juga yang menganggap sebaliknya karena di dalam telur mentah terdapat bakteri yang dikenal sebagai <em>Salmonella enteritidis.</em> Bakteri ini bisa menyebabkan keracunan pada makanan.</p>
<p>Data statistik secara global menunjukkan hanya ada sekitar 1 dari 30.000 ribu telur yang mengandung bakteri ini. Tapi tidak ada yang tahu telur mana yang terbebas dari bakteri berbahaya ini. Maka untuk menghindarinya lebih baik hanya mengonsumsi telur yan matang saja.</p>
<p>Seperti dikutip dari<em> Healthmad</em>, Jumat (11/12/2009), bakteri <em>Salmonella enteritidis</em> biasanya ditemukan dalam kuning telur, tapi sebagian besar putih telur tidak kebal terhadap bakteri ini.</p>
<p>Satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan memasaknya hingga matang. Akibatnya bakteri penyebab penyakit pada makanan akan mati, tapi tidak merusak protein yang terkandung dalam telur.</p>
<p>Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah sangat berisiko tinggi terkena kontaminasi seperti pada anak-anak, orangtua, ibu hamil, orang yang sakit serta orang yang kondisi tubuhnya sedang capek atau lelah.</p>
<p>Selain bakteri Salmonella tersebut, dalam telur mentah juga terdapat zat avidin. Zat ini mampu mengikat biotin sehingga makanan tidak dapat dicerna, akibatnya membuat kadar biotin dan hemoglobin dalam urin menurun. Biotin adalah koenzim yang ikut berperan dalam metabolisme lemak dan karbohidrat, selain itu zat ini juga larut dalam air.</p>
<p>Jadi ingat, memakan telur mentah ada bahaya keracunan akibat baketri dan zat avidin di dalam telur mentah bisa mengikat biotin dengan gejala mengantuk, penurunan berat badan, insomnia, gangguan pada kulit serta nyeri pada ototnya. Hal ini disebabkan oleh terganggunya metabolisme dari zat makronutrien dalam tubuh.</p>
<br />Posted in Artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=86&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bahaya-konsumsi-telur-mentah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.detik.com/content/2009/12/11/766/telur-dalam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">img</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisakah Diabetes Disembuhkan?</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bisakah-diabetes-disembuhkan/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bisakah-diabetes-disembuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 15:38:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[(Foto: hubpages) Jakarta, Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sekali terkena diabetes akan menanggungnya seumur hidup. Penderita diabetes harus selalu tergantung dengan obatnya. Tapi benarkah diabetes tak bisa disembuhkan? Selama ini orang selalu menganggap penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan. Tapi ternyata seorang penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat, asalkan pola makannya benar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=80&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<div><img src="http://images.detik.com/content/2009/12/11/775/tes-diabetes-dalam-hubpages.jpg" alt="img" width="200" /><br />
<strong>(Foto: hubpages)</strong></div>
<p><strong>Jakarta,</strong> Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sekali terkena diabetes akan menanggungnya seumur hidup. Penderita diabetes harus selalu tergantung dengan obatnya. Tapi benarkah diabetes tak bisa disembuhkan?</p>
<p>Selama ini orang selalu menganggap penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan. Tapi ternyata seorang penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat, asalkan pola makannya benar, rajin olahraga dan memeriksakan kadar gula darahnya.</p>
<p>Diabetes bisa dibilang sebagai penyakit silent killer. Penyakit ini memang tidak mematikan, tapi komplikasi yang ditimbulkan dari diabetes bisa membuat seseorang menjadi meninggal. Karena komplikasi yang ditimbulkan bisa ke semua organ, seperti kaki, otak, mata, saraf dan organ lainnya.</p>
<p>&#8220;Satu juta orang di seluruh dunia menjalani operasi amputasi karena diabetes, 5 persen kebutaan akibat diabetes, sebagian besar pasien cuci darah akibat diabetes dan juga komplikasi lain seperti katarak atau jantung,&#8221; ujar dr. Sandra Utami Widiastuti, SpPD dalam acara forum media online dengan Siloam Hospital di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2009).</p>
<p>Diabetes itu sendiri terbagi menjadi 4 tipe yaitu:</p>
<ol>
<li>Tipe 1: bisa menyerang anak kecil atau anak muda. Ini diakibatkan tubuh tidak bisa memproduksi insulin sama sekali atau jumlahnya sedikit.</li>
<li>Tipe 2: biasanya menyerang orang yang lebih dewasa. Dalam tubuhnya insulin bisa diproduksi tapi cara kerjanya tidak efektif.</li>
<li>Tipe gestasional: tekanan gula darah tinggi yang terjadi saat ibu sedang hamil, tapi akan normal kembali ketika sudah melahirkan.</li>
<li>Tipe lainnya: terjadi akibat infeksi di pankreas, ada tumor atau zat kimia yang bisa menghancurkan insulin.</li>
</ol>
<p>Namun, yang paling umum didengar masyarakat adalah tipe 1 dan tipe 2. Untuk tipe 1 pengobatannya harus dengan menyuntikkan insulin, sedangkan untuk tipe 2 biasanya melalui obat oral yang dikombinasikan dengan pola makan sehat serta olahraga. &#8220;Sebenarnya 60 persen dari penderita diabetes tipe 2 ini bisa dicegah,&#8221; ujar dokter yang berpraktek di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta ini.</p>
<p>Sampai saat ini diabetes memang belum bisa disembuhkan, tapi penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat asalkan memiliki pola makan yang benar dan sehat, rajin melakukan olahraga seperti jogging, sepeda atau berenang serta hal yang paling penting adalah gula darahnya terkontrol dengan baik.</p>
<p>&#8220;Karena pola makan yang benar dan rajin olahraga sudah jadi satu paket dalam perawatan untuk diabetes,&#8221; ujar dokter cantik berkacamata ini. Selain itu, harus rajin melakukan tes gula darah. Karenanya bagi penderita diabetes sebaiknya memiliki alat tes gula darah pribadi.</p>
<p>Dengan melakukan perawatan yang baik dan benar, maka kemungkinan terjadinya komplikasi dari penyakit diabetes ini menjadi sangat kecil. Edukasi mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan diabetes seperti berapa kalori yang dibutuhkan dalam sehari atau bagaimana memotong kuku yang benar agar tidak menimbulkan luka, bisa membuat penderita diabetes beraktivitas seperti biasanya.</p>
<p>Banyak orang yang tidak menyadari apabila dirinya mengidap penyakit diabetes, tapi ada gejala penting yang bisa menjadi petunjuk awal dari penyakit diabetes yaitu, sering buang air kecil, banyak minum, banyak makan tapi berat badan justru menurun. Sedangkan gejala lainnya yang bisa diperhatikan adalah gampang infeksi atau terkena jamur, gampang capek, keputihan serta sering kesemutan.</p>
<p>Untuk itu sebaiknya periksakan kadar gula darah jika berusia 40 tahun ke atas, saat hamil pernah mengalami tekanan gula darah tinggi, ada anggota keluarga seperti orangtua atau saudara kandung yang terkena diabetes, mengalami obesitas, kadar kolesterol baik (HDL) rendah atau dalam pemeriksaan sebelumnya didapati kadar gula darah agak tinggi.</p>
<br />Posted in Artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=80&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/11/bisakah-diabetes-disembuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.detik.com/content/2009/12/11/775/tes-diabetes-dalam-hubpages.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">img</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Melitus</title>
		<link>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/11/19/penatalaksanaan-gizi-pada-diabetes-melitus/</link>
		<comments>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/11/19/penatalaksanaan-gizi-pada-diabetes-melitus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 07:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pojoksehat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Diabetes Melitus]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Intervensi Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Langkah-Langkah Terapi Gizi Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Penatalaksanaan Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Penatalaksanaan Gizi Diabetes Mellitus]]></category>
		<category><![CDATA[Prinsip Perencanaan Makan]]></category>
		<category><![CDATA[Terapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pojoksehat.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[PojokSehat. Walaupun kepatuhan pada pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pelayanan diebetes, terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Digambarkan suatu model Terapi Gizi Medis pada rekomendasi The American Diabetes Association (ADA) 2003. model tersebut memerlukan pendekatan tim yang terdiri dari dokter, dietisie, perawat dan petugas kesehatan lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=24&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/11/diabetes_food_pyramid.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-122" title="diabetes_food_pyramid" src="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/11/diabetes_food_pyramid.jpg?w=239&#038;h=300" alt="" width="239" height="300" /></a>PojokSehat</strong>. Walaupun kepatuhan pada pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pelayanan diebetes, terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes.<br />
Digambarkan suatu model Terapi Gizi Medis pada rekomendasi <em>The American Diabetes Association</em> (ADA) 2003. model tersebut memerlukan pendekatan tim yang terdiri dari dokter, dietisie, perawat dan petugas kesehatan lain serta pasien itu sendiri untuk meningkatkan kemampuan setiap pasien dalam mencapai kontrol metabolik yang baik. Kunci keberhasilan terapi gizi medis adalah keterlibatan dalam 4 hal yaitu assesment atau pengkajian parameter metabolik individu dan gaya hidup, mendorong pasien berpartisipasi pada penentuan tujuan yang akan dialami, memilih intervensi gizi yang memadai dan mengevaluasi efektifnya perencanaan pelayanan gizi.<span id="more-24"></span><br />
Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia yang telah disusun oleh PERKENI (21 November 1993 yang direvisi tahun 1998 dan terakhir tahun 2006) antara lain memberikan pedoman tentang kebutuhan gizi orang dengan diabetes dan anjuran penggunaan Daftar Bahan Makanan Penukar dalam penyuluhan perencanaan makan orang dengan diabetes.</p>
<p><strong>A.Terapi Gizi Medis</strong><br />
Tujuan umum terapi gizi adalah membantu orang dengan diabetes memperbaiki kebiasaan dan olah raga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dan beberapa tujuan khusus yaitu :<br />
1. Mempertahankan kadar Glukosa darah mendekati normal dengan keseimbangan asupan makanan dengan insulin (endogen atau eksogen) atau obat hipoglikemik oral dan tingkat aktufitas.<br />
2. Mencapai kadar serum lipid yang optimal.<br />
3. Memberikan energi yang cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang memadai orang dewasa, mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada anak dan remaja, untuk meningkatkan kebutuhan metabolik selama kehamilan dan laktasi penyembuhan dari penyakit katabolik.<br />
4. Berat badan memadai diartikan sebagai berat badan yang dianggap dapat dicapai dan dipertahankan baik jangka pendek maupun jangka panjang oleh orang dengan diabetes itu sendiri maupun oleh petugas kesehatah. Ini mungkin tidak sama dengan yang biasanya didefinisikan sebagai berat badan idaman.<br />
5. Menghindari dan menangan komplikasi akut orang dengan diabetes yang menggunakan insulin seperti hipoglikemia, penyakit-penyakit jangka pendek, masalah yang berhubungan dengan kelainan jasmani dan komplikasi kronik diabetes seperti : penyakit ginjal, neuroati automik, hipertensi dan penyakit jantung.<br />
6. Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal.</p>
<p><strong>B. Langkah-Langkah Terapi Gizi Medis</strong><br />
B.1. Pengkajian<br />
Pengkajian gizi pasien termasuk data klinis seperti hasil pemantauan sendiri kadar glukosa darah, kadar lemak darah (kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida) dan hemoglobin glikat. Pengkajian gizi juga digunakan untuk mengetahui apa yang mampu dilakukan oleh pasien dan kesediaan untuk melakukannya. Aspek budaya, etnik, dan keuangan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan kepatuhan pasien yang tinggi.<br />
Informasi yang dikumpulkan oleh tim diabetes perlu dicatat pada dokumen medik sehingga perencanaan penanganan diabetes secara menyeluruh dapat dikembangkan dan semua anggota tim dapat membantu pasien.<br />
Pengkajian dapat dilakukan melalui wawancara atau dengan penggunaan kuesioner. Dietisien yang bekerja di ruang perawatan dapat menggunakan kuesioner yang sederhana. Pengkajian hendaknya mampu mengidentifikasi masalah gizi dan miskonsepsi yang ada.<br />
B.2. Menentukan Tujuan yang akan Dicapai<br />
Hasil dari pengkajian gizi diperlukan untuk menentukan tujuan yang akan dicapai. Pasien hendaknya diminta untuk mengidentifikasi apa yang diperlukan dalam penatalaksanaan diabetes secara keseluruhan.<br />
Tujuan yang ditetapkan hendaknya membantu orang dengan diabetes membuat perubahan yang positip dalam kebiasaan makan dan latihan jasmani yang akan menghasilkan antara lain perbaikan kadar glukosa darah dan kadar lemak darah serta memperbaiki asupan gizi.<br />
B.3. Intervensi Gizi<br />
Informasi yang didapatkan dari pengkajian gizi dan tujuan yang akan dicapai menentukan dasar intervensi gizi. Dietisien perlu mempertimbangkan berapa banyak informasi yang perlu diberikan, kemampuan baca dan tulis pasien dan jenis alat peraga yang diperlukan (<em>handout, video, audiotape, flip chart, food models</em>). Intervensi gizi ditujukan untuk memberikan informasi praktis pada pasien yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.<br />
Intervensi gizi melibatkan 2 tahap pemberian informasi :<br />
•	Intervensi Gizi Dasar<br />
Tahap ini memberikan gambaran tentang gizi, kebutuhan zat gizi, petunjuk penatalaksanaan gizi pada diabetes, informasi survival skill yang dianggap perlu untuk pasien (membaca label, penatalaksanaan pada saat sakit)<br />
•	Intervensi Gizi Lanjutan<br />
Tahap ini melibatkan penggunaan suatu pendekatan perencanaan makan yang lebih mendalam seperti menu, penghitungan kalori, penghitungan lemak, daftar bahan penukar, dan lain-lain.<br />
B.4. Evaluasi<br />
Evaluasi adalah bagian yang sangat penting pada proses terapi gizi medis. Dietisien dank lien bersama-sama menetapkan hasil intervensi. Pada tahap terapi ini, pemecahan masalah mungkin penting untuk membantu pasien menetapkan tujuan baru untuk intervensi gizi lebih lanjut. Pemantauan keadaan glukosa darah dan hemoglobin glikat (AIC). Lipid, tekanan darah dan fungsi ginjal peting untuk mengevaluasi hasil yang berhubungan dengan gizi.<br />
Untuk individu, konsisiten dalam hal pola makan penting oleh karena pola makan yang konsisten menghasilkan AIC yang lebih rendah daripada pola makan yang serampangan. Tindaklanjut untuk anak-anak dianjurkan dilakukan setiap 3-6 bulan sedangkan pada orang dewasa setiap 6 sampai 12 bulan.<br />
C.1. Terapi Gizi pada DM Tipe 1<br />
Perlu ditetapkan perencanaan makan yang berdasarkan asupan makan sehari-hari individu dan digunakan sebagai dasar untuk mengintegrasikan terapi insulin dengan pola makan dan latihan jasmani yang biasanya dilakukan. Individu yang menggunakan terapi insulin dianjurkan makan pada waktu yang konsisten dan sinkron dengan waktu kerja insulin yang digunakan. Selanjutnya individu perlu memantau kadar glukosa darah sesuai dosis insulin dan jumlah makanan yang biasa dimakan.<br />
C.2. Terapi Gizi PadaDM Tipe 2<br />
Penekanan tujuan terapi gizi medis pada diabetes tipe 2 hendaknya pada pengendalian glukosa, lipid, dan hipertensi. Penurunan berat badan dan diet hipokalori (pada pasien yang gemuk) biasanya memperbaiki kadar glikemik jangka pendek dan mempunyai potensi meningkatkan control metabolik jangka lama. Diet dengan kalori sangat rendah, pada umumnya tidak efektif untuk mencapai penurunan berat jangka lama, dalam hal  ini perlu ditekankan bahwa tujuan diet adalah pada pengendalian glukosa dan lipid. Namun demikian pada sebagian individu penurunan berat badan dapat juga dicapai dan dipertahankan.<br />
Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Pengaturan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari. Penurunan berat badan ringan atau sedang (5-10kg) sudah terbukti dapat meningkatkan control diabetes, walaupun berat badan idaman tidak dicapai. Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan baik dengan penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran energi. Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 kkal lebih rendah dari asupan rata-rata sehari.</p>
<p>Kebutuhan Zat Gizi<br />
A.	Protein<br />
Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energy dari protein total. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006 kebutuhan protein untuk penyandang diabetes juga 10%-20% energi.<br />
Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg berat badan perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologic tinggi.<br />
B.	Total Lemak<br />
Asupan lemak dianjurkan 7lt;7% energy dari lemak jenuh dan tidak jennuh 10% dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energy.<br />
Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet disiplin diet dislipidemia tahap II yaitu  1000 mg/dl mungkin perlu penurunan semua tipe lemak makanan untuk menurunkan kadar lemak plasma dalam bentuk kilomikron.<br />
C.	Lemak Jenuh dan Kolesterol<br />
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu &lt; 7% asupan energy sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari.<br />
D.	Karbohidrat dan Pemanis<br />
Rekomendari ADA tahun 1994 lebih memfokuskan pada jumlah total karbohidrat daripada jenisnya. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik yang lebih rendah dari pada sebagian besar tepung-tepungan. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang berbeda,prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi daripada sumber karbohidrat. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 45-65% energy.<br />
D.1. Sukrosa<br />
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa  sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk control glukossa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan. Dalam melakukan subtitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandugan zat gizi lain dari makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan, seperti lemak yang sering ada bersama sukrosa dalam makanan. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi.<br />
D.2. Pemanis<br />
Fluktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Namun demikian, karena pengaruh dalam jumlah besar (20% energy) potensial merugikan pada kolesterol dan LDL, fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes. Penderita disiplemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar, namun tidak ada alas an untuk menghindari makanan seperti buah-buahan dan sayuran yang mengandung fruktosa alami maupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa.<br />
Sorbitol, manitoldan xylitol adalah gula alcohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah daripada sukrosa dan karbohidrat lain. Penggunaan pemanis tersebut secara berlebihan dapat mempunyai pengaruh laksatif.<br />
Sakarin, aspartame, acesulfame k adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM.<br />
E.	Serat<br />
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 gr serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 gr/1000 kalori/ hari dengan mengutamakan serat larut.<br />
F.	Natrium<br />
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mgr, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mgr natrium perhari.<br />
G.	Alkohol<br />
Anjuran penggunaan alkohol untuk orang dengan diabetes sama dengan masyarakat umum. Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik.<br />
Alkohol dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada mereka yang menggunakan insulin atau sulfonylurea. Karena itu sebaiknya hanya diminum pada saat makan.<br />
Bagi orang dengan diabetes yang mempunyai masalah kesehatan lain seperti pancreatitis, dislipidemia, atau neuropati mungkin perlu anjuran untuk mengurangi atau menghindari alkohol.<br />
Asupan kalori dari alkohol diperhitungkan sebagai bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar lemak (1 minuman alcohol sama dengan 2 penukar lemak).<br />
Anjuran bagi orang diabetes yang tidak dapat meninggalkan alkohol adalah sebagai berikut :<br />
1.	Alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila :<br />
•	kadar glukosa darah belum terkendali.<br />
•	Kadar trigleserida darah meningkat.<br />
•	Menggunakan obat diabetes sulfonylurea generasi pertama karena dapat memberikan efek samping.<br />
•	Menderita penyakit gastritis, pankreatis, tipe tertentu penyakit ginjal dan jantung. Alkohol mengandung kalori tinggi  sehingga tidak baik bagi yang kegemukan.<br />
2.	Tidak diminum bila peut kosong karena dapat menyebabkan hipoglikemia.<br />
3.	Alkohol mengganggu kesadaran sehingga dapat membuat perencanaan makan kurang bisa dipatuhi.<br />
4.	Batasi tidak lebih dari 1-2 minuman saja, tidak lebih dari 2x seminggu. Untuk yang menggunakan insulin, tidak lebih dari 2 minuman alkohol (1 minuman alkohol setara dengan 340 gr bir, 140 gr anggur atau 42 distilled spirits).<br />
H.	Mikronutrien : Vitamin dan Mineral<br />
Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin dan mineral. Walaupun ada alas an teoritis untuk memberikan suplemen anti oksidan, pada saat ini, hanya sedikit bukti yang menunjang bahwa terapi tersebut menguntungkan.<br />
Pemberian kromium menguntungkan pengendalian glikemik bagi mereka yang kekurangan kromium sebagai akibat nutrisi parenteral. Kebanyakan orang dengan diabetes agaknya tidak kekurangan kromium oleh karena itu suplementasi kromium tidak bermanfaat. Walaupun kekurangan magnesium dapat berperan pada resistansi insulin, intoleransi karbohidrat dan hipertensi, data yang ada menyarankan bahwa evaluasi rutin kadar magnesium serum dianjurkan pada pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita devisiensi magnesium.<br />
Suplementasi kalium mungkin diperrlukan bagi pasien yang kehilangan kalium kerena menggunakan diuretik. Hiperkalimea dapat terjadi pada pasien dengan insufiensi ginjal atau hipoaldosteronisme hiporeninemik atau pasien rawat inap yang minum angiotensin converting enzyim inhibitor, dalam hal ini dapat dilakukan pembatasan kalium dalam diet pasien.</p>
<p><strong>Prinsip Perencanaan Makan bagi Penyandang Diabetes</strong></p>
<p>Kebutuhan Kalori</p>
<p>Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Kompisisi energy adalah 45-65% dari karbohidrat, 10-20% dari protein  dan 20-25% dari lemak.</p>
<p>Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhankalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa factor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan.</p>
<p>Cara lain adalah seperti table I. cara yang lebih gampang lagi adalah dengan pegangan kasar yaitu untuk pasien kurus 2300-2500 kalori, normal 1700-2100 kalori, dan gemuk 1300-1500 kalori.</p>
<p>Tabel I. Kebutuhan kalori penyandang diabetes</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="160" valign="top"></td>
<td width="160" valign="top">Kalori/kg BB ideal</td>
<td width="160" valign="top"></td>
<td width="160" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="160" valign="top">Status Gizi</td>
<td width="160" valign="top">Kerja santai</td>
<td width="160" valign="top">sedang</td>
<td width="160" valign="top">berat</td>
</tr>
<tr>
<td width="160" valign="top">Gemuk</td>
<td width="160" valign="top">25</td>
<td width="160" valign="top">30</td>
<td width="160" valign="top">35</td>
</tr>
<tr>
<td width="160" valign="top">Normal</td>
<td width="160" valign="top">30</td>
<td width="160" valign="top">35</td>
<td width="160" valign="top">40</td>
</tr>
<tr>
<td width="160" valign="top">Kurus</td>
<td width="160" valign="top">35</td>
<td width="160" valign="top">40</td>
<td width="160" valign="top">40-50</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Perhitungan berat badan idaman dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut :</p>
<p>Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm- 100 cm)x 1 kg</p>
<p>Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus modifikasi menjadi :</p>
<p>Berat badan ideal = (TB dalam cm – 100) x 1 kg</p>
<p>Sedangkan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat badan (kg)</p>
<p>Tinggi badan (m2)</p>
<p>Adalah sebagai berikut :</p>
<p>Berat normal : IMT = 18,5 – 22,9 kg/m2</p>
<p>Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori :</p>
<ol>
<li>Jenis kelamin</li>
</ol>
<p>Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/ kg BB untuk pria.</p>
<ol>
<li>Umur</li>
</ol>
<ul>
<li>Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB.</li>
<li>Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya.</li>
<li>Penurunan kebutuhan kalori di atas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap decade antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, di atas 70 tahun dikurangi 20%.</li>
</ul>
<ol>
<li>Aktivitas Fisik atau pekerjaan</li>
</ol>
<p>Jenis aktivitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis aktivitas dikelompokkan sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10%</li>
<li>Ringan : pegawai kantor, pegawai took, guru, ahli hokum, ibu rumah tangga dan lain-lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal.</li>
<li>Sedang : pegawai di industry ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, kebutuan dinaikkan menjadi 30% dari basal.</li>
<li>Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, kebutuhan ditambah 40%.</li>
<li>Sangat berat : tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus ditambah 50% dari basal.</li>
</ul>
<ol>
<li>Kehamilan / laktasi</li>
</ol>
<p>Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/ hari dan ada trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.</p>
<ol>
<li>Adanya komplikasi</li>
</ol>
<p>Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan 1 derajat celcius.</p>
<ol>
<li>Berat badan</li>
</ol>
<p>Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan/kerusakannya.</p>
<p>B. Gula</p>
<p>Gula dan produk lain dari gula dikurangi, kecuali pada keadaan tertentu,  misalnya pasien dengan diet rendah protein dan yang mendapat makanan cair, gula boleh diberikan untuk mencukupi kebutuhan kalori, dalam jumlah terbatas. Penggunaan gula sedikit dalam bumbu diperbolehkan sehingga memungkinkan pasien dapat makan makanan keluarga. Anjuran penggunaan gula untuk orang dengan DM sama dengan untuk orang-orang normal yaitu tidak lebih dari 5% kebutuhan kalori total.</p>
<p>C. Sumber Diet Diabetes Melitus</p>
<p>Untuk perencanaan pola makan sehari, pasien diberi petunjuk berapa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk Penukar (P). lihat lampiran I. berdasarkan pola makan pasien tersebut dan Daftar Bahan Makanan  Penukar, dapat disusun menu makanan sehari-hari.</p>
<p>D. Daftar Bahan Makanan Penukar</p>
<p>Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikeompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama.</p>
<p>Dikelompokkan menjadi 8 kelompok bahan makanan yaitu :</p>
<ul>
<li>Golongan I : bahan makanan sumber karbohidrat.</li>
<li>Golongan II : bahan makanan sumber protein hewani</li>
<li>Golongan III : bahan makanan sumber protein nabati</li>
<li>Golongan IV : sayuran</li>
<li>Golongan V : buah-buahan</li>
<li>Golongan VI : susu</li>
<li>Golongan VII : minyak</li>
<li>Golongan VIII : makanan tanpa kalori</li>
</ul>
<p>Diambil dari <em>Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Melitus.</em><br />
Di Tulis oleh : Kartini Sukardji pada <em>Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu</em> edisi kedua tahun 2009. Bab V.</p>
<br />Posted in Artikel Tagged: Diabetes Melitus, Gizi, Intervensi Gizi, Langkah-Langkah Terapi Gizi Medis, Penatalaksanaan Gizi, Penatalaksanaan Gizi Diabetes Mellitus, Prinsip Perencanaan Makan, Terapi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pojoksehat.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pojoksehat.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pojoksehat.wordpress.com&amp;blog=10232701&amp;post=24&amp;subd=pojoksehat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pojoksehat.wordpress.com/2009/11/19/penatalaksanaan-gizi-pada-diabetes-melitus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f9f47625d72c93a50e7b2b36e762b18?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pojoksehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pojoksehat.files.wordpress.com/2009/11/diabetes_food_pyramid.jpg?w=239" medium="image">
			<media:title type="html">diabetes_food_pyramid</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
